Headlines News :


Follow & Join

ISRAEL VERSUS PALESTINA

Kajian Terhadap BANGSA PILIHAN DAN TANAH PERJANJIAN Dari Persfektif ALKITABIAH

Oleh : Selfhy Yeimo 
 
Bendera Israel Kiri dan Bendera Palestina Kanan (Foto: Google)

Shalom Koya, amole, kaonak, tabea,poy, Waniam ,wa wa wa........yang lain kam lanjut sudah! 

Setelah melihat peristiwa peperangan yang terjadi di Timur tengan anatara ISRAEL DAN PALESTINA yang menewaskan puluhan jiwa dan ratusan korban. Akibat dari Pembunuhan 3 Anak Yahudi – Israel di jalur Gaza. Beberapa hari belakangan kita banyak menyimak dari Berita di TV tentang peristiwa ini. Dan tentu nya hal semacam ini tidak lazim lagi terdengar di telinga kita sejak dahulu. 


Rasanya tidak pernah ada titik damai antara ke dua bangsa tersebut. Tentunya akan muncul berbagai pertanyaan di benak kita bahwa : Ada apa sebenar nya antara dua bangsa ini? Tidak adakah rasa saling mengasihi antara umat Manusia yang memiliki hati nurani kemanusiaan? Saling menyerang dan bunuh –membunuh lah yang menjadi tradisi dari mereka ? Dimana kah titik temu ? Dan apa kebenarannya? Untuk menjawab pertanyaan – Pertanyaan diatas saya akan melihat ISRAEL dan PALESTINA ,Tanah Pernjian serta Bangsa pilihan dari apa yang kitab SUCI (ALKITAB ) Kaum nasrani /Umat Kristen (Pengikut TUHAN Yesus Kristus ).

APA KATA ALKITAB TENTANG DUA BANGSA INI Kita akan tarik cerita dari Abraham yang mempunya dua anak yaitu Ismail dan Ishak . Ketika Sarah Istri Abraham mandul dan tidak mendapatkan Anak bagi Abraham, Sarah menyuruh Abraham untuk mengambil Budak nya yang di ambil dari Mesir yakni Hagar. Hagar lalu mengandung dan melahirkan anak bagi laki-laki bagi Abraham dan diberi nama Ismail. Ismail Lahir namun dia lahir sebagai anak budak, walaupun lahir sebagai anak Abraham mendapat sebagian warisan harta bendanya namun dalam tradisi mereka Dia tetaplah menyandang status sebagai Anak Budak atau Hamba.

Dengan berjalannya waktu, Hamba Sarai Yakni Harga memandang renda nyonya nya lalu Sarai mengadukan hal kepada Abraham suaminya lalu Abraham berkata “Hamba mu itu dibawah kekuasaan mu;Perbuatlah apa yang kau pandang Baik .”LALU SARAI MENINDAS Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. (Baca Kejadian 16 :1-16). Sesudah Sarai mendapat berkat anak dari Tuhan , maka lahir lah Ishak yang adalah anak Perjanjian dari Tuhan, yang lahir dari rahim Sarai wanita yang dicintai Abraham. Lalu dirasa bahwa anak Dari Hagar dapat membahayakan Ishak maka di Usirnyalah wanita budak itu beserta anak nya Ismail pulang kenegerinya ( Baca Kejadian 21 : 8- 21 ). Dari Kedua anak Abraham yaitu Ishak dan Ismail , anak dari Seorang wanita yang statusnya Hamba dan seorang wanita Merdeka, berkembang hingga saat ini. Kemudian yang lebih jelas lagi itu Kedua anak dari Ishak Yaitu YAKUB DAN ESAU ketika Tuhan Allah Berfirman kepada Ishak “ Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahim mu ; Suku bangsa yang satu akan Lebih KUAT dari yang lain , dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang Muda. (Baca Kejadian Pasal 25 : 19 – 34 ).

Penjualan tentang Hak Kesulungan itu pun terjadi pada waktu Peristiwa Bubur kacang Merah Yakub yang di beli Oleh Esau . Berlanjut dengan Peristiwa Yakub diberkati Ishak sebagai anak sulung. Konon dalam tradisi Bangsa Israel-Yahudi Hak Kesulungan, pewarisan Harta kekayaan diberikan kepada anak yang tua (Baca Kejadian 27 : 1- 46). Dari situlah Permusuhan antara Esau dan Yakub terjadi hingga saat ini . Berawal dari Cerita inilah Terbentuk dua bangsa yaitu ISARAEL DAN PALESTINA, yang kita kenal saat ini. Bagi bangsa Israel menyatakan diri mereka adalah Bangsa PILIHAN TUHAN semesta Alam. Mereka adalah Anak Sulung dari ALLAH. Hukum tentang Perjanjian sebagai Umat Allah Terjadi ketika Yakub yang adalah Manusia biasa dapat menang Melawan Tuhan dalam Pergulatan sepanjang malam ( Baca Kejadian 32 : 22 - 32 ). Lewat kisah ini lah yang membuat bangsa ISRAEL tetap kuat hingga saat ini. Nama ISRAEL sendiri diberikan oleh TUHAN ALLAH “ Lalu kata Orang itu “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.’” Sahut Yakub .” Aku tidak akan ,membiarkan engkau pergi, jika engkat tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepada Yakub “Siapa kah namamu? Sahutnya : Yakub .” Lalu kata Orang itu : Namamu tidak akan disebut lagi Yakub, tetapi Israel, SEBAB ENGKAU TELAH BERGUMUL MELAWAN ALLAH DAN MANUSIA, DAN ENGKAU MENANG. Lalu tempat itu dinamainya Pniel. ISRAEL artinya YANG KUAT.

kuat bukan melawan manusia saja namun kuat karena melawan Allah Tuhan Yang hidup pencipta manusia dan alam ini. ISRAEL artinya yang tidak terkalahkan. Israel Artinya Yakub. Tidak ada atau belum pernah satupun bangsa yang mengalahkan Tuhan kecuali Israel. Israel yang dahulu ada didalam Kitab Suci Perjanjian Lama itulah yang saat ini ada dan menetap di Timur Tengah yang ibu kota negaranya Yerusalem. Yang sebenarnya menurut Alkitab ISRAEL DAN FALESTINA ADALAH SAUDARA, namun mereka berbedah dari sisi anak PERJANJIAN DAN ANAK HAMBA, mereka dibedakan dari anak Sulung dan anak Hamba. Ini lebih kepada Perjanjian dan Kecemburuan hak sulung. HUBUNGAN ISRAEL DENGAN TANAH PERJANJIAN Berbicara tentang Sengketa tanah antara Falestina dan Israel mengenai Tanah Perjanjian (Telaviv saat ini ) adalah pemberian Tuhan Allah dahulu kepada Abraham. Alkitab pada Kejadian Pasal 21 : 1- 9. Abraham di panggil dari Sanak Keluarga dan menuju tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Yaitu tanah kanaan. Itu Tanah Perjanjian yang tidak dapat di tinggalkan. Segala hal yang di miliki oleh Abraham adalah milik Ishak, yang di miliki oleh Ishak adalah Milik Yakub (Isarel) sebagai anak sulung yang sah. Yang di miliki yakub ( Israel ) adalah pemberian Tuhan yang tentunya dijaga dengan segenap Kekuatan hingga Nyawa sekalipun.

Selagi hukum alam belum berakhir perjanjian Tuhan atas Yakub dan keturunan nya tidak akan berubah bahkan tidak ada manusia di dunia ini pun yang dapat membatalkan Perjanjian itu. Entah negara adikuasa Amerika, negara –negara Eropa bahkan Indonesia sekalipun. HUKUMAN TUHAN ATAS MUSUH –MUSUH ISRAEL Menurut Alkitab Hukuman, kutuk yang akan didapatkan oleh bangsa –bangsa, Manusia –manusia yang bangkit dan melawan BANGSA KUAT ini Tuhan sendirilah yang akan melawan bangsa –bangsa itu .Jika keliru mari duduk sejenak dan baca ini Yoel 3 : 1- 8 “ Sebab sesungghnya pada hari –hari itu dan pada waktu itu, apabila AKU memulihkan keadaan Yehuda dan Yerusalem, Aku akan mengumpulkan segala bangsa dan akan membawa mereka turun ke lemba Yosafat; Aku akan Berperkara dengan mereka disana mengenai Umat –Ku dan milik-Ku sendiri, ISRAEL, oleh karena mereka mencerai beraikan nya ke antara bangsa-bangsa dan membagi –bagi tanah-Ku oleh karena mereka membuang Undi mengenai umat-Ku, Menyerahkan seorang anak laki-laki karena seorang sundal dan menjual seorang anak perempuan karena anggur untuk di minum.

Lagi apakah sangkut Paut mu dengan Aku, Hai tirus dan sidon dan seluruh wilayah Filistin ? ............(Ayat 4- 8). Itulah hukuman Tuhan bagi Bangsa –bangsa yang memusuhi, mengutuk dan membinasakan ISRAEL . (Baca juga Yehezkiel 25 : 15 – 17). Sungguh, bangsa dan kerajaan yang tidak mau mengabdi kepadamu akan lenyap; bangsa – bangsa itu akan dirusakbinasakan; (Yesaya 60 : 12). Jadi saya berpikir Alkitab secara jelas banyak menceritakan tentang siapa itu Israel, mengapa nama itu ada, mereka di nobatkan serta diangkat oleh Tuhan sebagai anak sulung nya Tuhan sendiri, mengapa persoalan antara Israel dan Palestina dapat terjadi.

Kesemuanya sudah dijelaskan. Jika kita percaya isi Alkitab dan Kita percaya kita adalah ciptaan Tuhan dan mempercayai Tuhan yang dipercayai oleh Tuhan maka kita tidak dapat melawan Tuhan dan ketepan NYA. PERSOALAN TENTANG KEMANUSIAAN DAN DAN PELANGGARAN HAM Setiap orang/ setiap bangsa , setiap suku, kaum dan bahasa berhak memperoleh kehidupan dengan bebas di atas bumi yang adalah karya sang Khalik yang mulia, namun jika kemudian terjadi persoalan seperti ini, Kita dapat tinjau kembali SEJARAH DAN AKAR DARI persoalan tersebut. Bagi Kaum Yahudi Manusia adalah berharga, mereka Relah melakukan apa saja jika bangsa nya dan kaum nya dibunuh dan dibinasakan. Satu jiwa Bangsa Yahudi sama dengan Seribu orang Bangsa Lain. Jika kita berbicara tentang ini dari sisi kemanusiaan lalu kita hendak memprotes kepada Israel, mengapa terjadi ini dan itu. Saya berpikir kita memprotesnya sama Tuhan yang menciptakan bangsa ini, dan Apa yang Sudah janjikan bagi Bangsa ini. Jika hendak memprotes Tuhan kita tentunya sadar diri kita, Siapa kita sehingga mau menasehati Tuhan ? siapa kita dan siapa Tuhan ? jika kita hendak menasehatiNYA tentunya kita tahu siapa kita? Kembali lagi kepada ALKITAB dan temukan KEBENARAN untuk penyelesaian bagi PERSOALAN yang ada.

Tulisan singkat ini kiranya menjadi pedoman bagi kita untuk melihat persoalan yang terjadi di Timur tengah antara ISRAEL Dan PALESTINA, di sini saya memposisikan diri dari sudut pandang ALKITAB (Kita suci kaum Kristiani ). Saya tidak memprotes ISRAEL karena saya takut dan tunduk juga kepada FIRMAN TUHAN ( KEJADIAN 12 : 3)”Barang siapa memberkati Israel akan di berkati dan Barang Siapa Mengutuk Israel Aakn dikutuk “ Saya juga tidak membenarkan ISRAEL karena saya mempercayai Tuhan yang di percayai mereka, saya menggunakan ALKITAB yang Firman Murninya datang dari Kaum Yahudi-ISRAEL. Dan atas nama Jiwa serta Kemanusiaan dan korban yang berjatuhan disana, saya berpikir kita kembali kepada Akar Persoalan. Sehingga PBB dapat mengambil kebijakan yang baik bagi kedua Bangsa ini. Saya adalah Bangsa Papua ,yang ada di ujung bumi, Ras melanesia dan Rumpun Negroid. Saya sebenarnya tidak sibuk demgan kedua negara ini. Namun Semua yang Alkitab katakan adalah benar, saya mengklaim ALKITAB adalah FIRMAN DAN ILHAM TUHAN YANG benar. Maka saya TUNDUK dan TAAT pada ALKITAB dan isinya. JIKA ALKITAB BILANG BENAR MAKA Saya akan membenar kan itu. Jika salah adalah Salah. “ Langit dan bumi akan berlalu, tetapi Perkataan –KU tidak akan berlalu “ kata YESUS (Markus 13 : 31)

IPMANAPANDODE JOGJA - SOLO : Kenyataan dan Harapan Pendidikan di Meuwo

I.    KENYATAAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN.
Penyelenggaraan pendidikan di Meuwo yang kini menjadi 4 kabupaten yakni Kabupatena Nabire, Kabupaten Paniai, Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Deiyai telah menunjukkan keberadaan pendidikan di Meuwo. Keberadaan pendidikan tersebut merupakan wajah pendidikan yang mencerminkan sejauhmana partisipasi para pihak dalam membangun pendidikan di Meuwo.

Anak Murid Sekolah di Papua (Foto:Ilustrasi)
Bertitik tolak dari wajah pendidikan di Meuwo menunjukkan peran para pihak dalam memajukan pendidikan di Meuwo dan sekaligus menunjukkan sejauhmana para pihak kurang bahkan tidak berperan aktif. Oleh karena itu, berikut ini kami menjelaskan kenyataan pendidikan di Meuwo berdasarkan jenjang pendidikan.

A.    Taman Kanak-Kanak (TK)
  • Pada umumnya anak-anak sekolah pendidikannya tidak melalui TK karena TK yang tersedia sangat terbatas.
  • Fasilitas yang kurang memadai.
  • Kerja sama antara TK dan pihak Orang Tua dalam mendidik dan mendewasakan anak masih kurang.
  • Sosialisasi mengenai pentingnya pendidikan melalui TK sangat minim.
  • Tenaga kerja dan pengajar kurang serius menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.

B.    Sekolah Dasar (SD)
  • Minimnya perhatian orang tua terhadap anak sehingga banyak anak malas sekolah.
  • Pengawasan orang tua terhadap anak sangat kurang sehingga banyak anak yang terjerumus dalam budaya baru yang negatif.
  • Tidak adanya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah untuk mengembangkan bakat dan mental anak.
  • Tenaga kerja dan pengajar kurang bertanggung jawab dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
  • Banyak guru yang terlena dengan situasi politik dan beralih profesi.
  • Kurang adanya transparansi dana BOS di sekolah menimbulkan proses belajar mengajar di sekolah berjalan “pincang”.
  • Ada kampung-kampung tertentu yang jalannya kurang bagus sehingga banyak anak murid terlambat sampai di sekolah.
  • Kurangnya keamanan lingkungan sekolah sehingga kenyamanan sekolah terganggu. Misalnya tidak ada pagar, tidak ada satpam.
  • Para guru dan murid kurang berdisiplin dalam proses belajar-mengajar.
  • Sering terjadi guru hanya memberikan cacatan tanpa menjelaskan.
  • Guru tidak profesional dalam mengajar mata pelajaran karena rangkap mengajar beberapa pelajaran yang tidak sesuai bidangnya dan pula guru berijazah beli.
  • Tidak tersedianya fasilitas sekolah seperti perpustakaan, Buku pegangan Guru, Buku Pegangan Siswa, LKS,
  • Sekolah-sekolah tertentu tidak melakukan evaluasi proses pengajaran pada akhir semester.
  • Evaluasi bersama antar Dewan Guru, BP3 dan Orang Tua murid kurang bahkan tidak dilaksanakan.
  • Tidak ada kontrol dan ketegasan dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran terhadap Guru dan terutama sekolah-sekolah di kampung.
  • Manajemen penyaluran dana yang seringkali lambat menyebabkan guru tidak memenuhi kebutuhannya sehingga guru meninggalkan tugas pokok.

C.    Sekolah Menengah Pertama (SMP)
  • Guru tetap di setiap sekolah masih minim.
  • Tidak ada transportasi darat dan danau sehingga banyak siswa terlambat sampai di sekolah.
  • Kurangnya keamanan lingkungan sekolah sehingga kenyamanan sekolah terganggu. Misalnya tidak ada pagar, tidak ada satpam.
  • Para guru dan murid kurang berdisiplin dalam proses belajar-mengajar.
  • Banyak guru yang terlena dengan situasi politik dan beralih profesi.
  • Sering terjadi guru hanya memberikan cacatan tanpa menjelaskan.
  • Guru tidak profesional dalam mengajar mata pelajaran karena rangkap mengajar beberapa pelajaran yang tidak sesuai bidangnya dan pula guru berijazah beli.
  • Tidak tersedianya fasilitas sekolah seperti perpustakaan, Buku pegangan Guru, Buku Pegangan Siswa, LKS.
  • Sekolah-sekolah tertentu tidak melakukan evaluasi proses pengajaran pada akhir semester.
  • Evaluasi bersama antar Dewan Guru, BP3 dan Orang Tua murid kurang bahkan tidak dilaksanakan.
  • Tidak ada kontrol dan ketegasan dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran terhadap Guru dan terutama sekolah-sekolah di kampung.
  • Manajemen penyaluran dana yang seringkali lambat menyebabkan guru tidak memenuhi kebutuhannya sehingga guru meninggalkan tugas pokok.

D.    SMU/SMK
  • Guru tetap masih kurang karena mayoritas guru berstatus honorer.
  • Tidak ada transportasi darat dan danau sehingga banyak siswa terlambat sampai di sekolah.
  • Kurangnya keamanan lingkungan sekolah sehingga kenyamanan sekolah terganggu. Misalnya tidak ada pagar, tidak ada satpam.
  • Para guru dan murid kurang berdisiplin dalam proses belajar-mengajar.
  • Banyak guru yang terlena dengan situasi politik dan beralih profesi.
  • Sering terjadi guru hanya memberikan cacatan tanpa menjelaskan.
  • Guru tidak profesional dalam mengajar mata pelajaran karena rangkap mengajar beberapa pelajaran yang tidak sesuai bidangnya dan pula guru berijazah beli.
  • Tidak tersedianya fasilitas sekolah seperti perpustakaan, Buku pegangan Guru, Buku Pegangan Siswa, LKS,
  • Sekolah-sekolah tertentu tidak melakukan evaluasi proses pengajaran pada akhir semester.
  • Evaluasi bersama antar Dewan Guru, BP3 dan Orang Tua murid kurang bahkan tidak dilaksanakan.
  • Tidak ada kontrol dan ketegasan dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran terhadap Guru dan terutama sekolah-sekolah di kampung.
  • Manajemen penyaluran dana yang seringkali lambat menyebabkan guru tidak memenuhi kebutuhannya sehingga guru meninggalkan tugas pokok.

II.     HARAPAN

A.    TK
  • Membangun dan mengadakan TK di setiap distrik dan pusat gereja, sekaligus dengan melengkapi fasilitas serta tenaga kerja dan pengajar
  • Tenaga kerja dan pengajar harus ditambah dan diperhatikan serius oleh pemerintah daerah.
  • Pemerintah perlu mensosialisasikan pentingnya pendidikan anak melalui TK kepada masyarakat umum.
  • Pakaian seragam TK baik anak murid maupun tenaga kerja dan pengajar harus bernuansa budaya setempat. Misalnya batik bernuansa lokal.
  • Kurikulum harus disesuaikan dengan keadaan dan kondisi daerah bahkan harus bernuansa lokal dan memiliki nilai budaya.

B.    SD
  • Pentingnya aturan yang dirumuskan bersama antara pemerintah, sekolah dan orang tua dalam mengawasi siswa.
  • Kaderisasi guru berdasarkan bidang harus menjadi perhatian serius pemerintah.
  • Pentingnya pengadaan buku muatan lokal dan tenaga pengajar.
  • Sekolah Dasar berbasis asrama yang dilengkapi dengan fasilitas dan Pembina asrama.
  • Kesejahteraan guru perlu diperhatikan terutama guru-guru yang bertugas di kampung atau pelosok.
  • Dinas P dan P perlu mengawasi setiap sekolah terutama sekolah-sekolah di kampung.
  • Perlu adanya kegiatan yang merangsang siswa dalam mengembangkan kreativitas dan kemampuan intelektual.
  • Mata pelajaran MULOK harus ada sertifikasi atau tanda bahwa siswa tersebut benar-benar lulus.

C.    SMP
  • Guru tetap di setiap sekolah harus diperhatikan serius.
  • Sarana dan prasarana pendidikan seperti Buku Pegangan Guru, Buku Pegangan Siswa, Perpustakaan, Lab. Komputer, Lab. IPA, Lab. Bahasa.
  • Tersedianya akses internet di sekolah
  • Adanya mata pelajaran TIK dasar
  • Mata pelajaran MIPA dan Bahasa Inggris harus menjadi perhatian serius dalam pembelajaran.
  • Perhatian dan pendampingan OSIS perlu mendapat perhatian di setiap sekolah sambil memberikan pengetahuan kepemimpinan dasar.
  • Kegiatan ekstrakurikuler di setiap sekolah perlu dikembangkan.
  • Kantin sekolah wajib dikembangkan di setiap sekolah.
  • Adanya pengawasan yang ketat untuk meminimalisir siswa yang bolos pada jam sekolah.

D.    SMU/SMK
  • Disiplin kerja para pendidik perlu diperketat
  • Perekrutan tenaga kerja dan pengajar guru mesti sesuai bidang/jurusan.
  • Setiap sekolah wajib mengadakan kegiatan yang dapat mengasah mental, kepribadian dan daya kritis siswa.
  • Memperketat bocoran kunci jawaban pada saat UAN.
  • Perkuat budaya membaca dan menulis melalui majalah dinding, mengarang, puisi, cerpen, lukisan, menggambar, artikel, dan lain-lain.

III.    POKOK PERHATIAN DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
  • Perpustakaan Daerah harus dibangun di setiap kabupaten.
  • Lokasi sekolah di tiap sekolah harus disertifikasi.
  • Seorang guru tidak diperbolehkan tarik di Dinas P dan P ataupun dinas lainnya, karena akan mengurangi tenaga pengajar di sekolah, dan apabila ditarik ke Dinas, maka mesti mempertimbangkan guru pengganti di sekolah tersebut.
  • Sekolah-sekolah yang baru buka sebaiknya ditutup dan mengembangkan sekolah-sekolah yang lama.
  • Setiap kali penerimaan PNS harus prioritaskan tenaga guru dengan memperketat legalitas ijazah bagi pelamar. PLPG dan Sertifikasi Guru disetiap jenjang pendidikan harus diperhatikan.
  • Sekolah-sekolah yang dibutuhkan di daerah seperti SMK (dengan jurusan Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Tata Boga, Akuntansi, Managent/Keuangan) dan STM (dengan jurusan Informatika, Otomotif, Listrik, Teknik Bangun) harus dibuka.
  • Harus ada penegakkan hukum mengenai jual beli dan saling pinjam ijazah.
  • Pemerintah Daerah harus membiayai Siswa/i putra daerah yang berasal dari keluarga berekonomi lemah untuk melanjutkan pendidikan Perguruan Tinggi.
  • Pemerintah daerah harus membangun hubungan kerjasama dengan Perguruan Tinggi yang memiliki jurusan langka seperti kedokteran, penerbangan, pendidikan, teknik sipil, informatika, teknik mesin, teknik elektro, teknik industri, pertanahan, pelayaran, planologi, penyiaran dan multimedia.
  • Setiap dosen yang ada di Meuwo wajib melakukan penelitian sebagai bahan pembelajaran dan juga dalam rangka meningkatkan kualitas kampus
  • Membentuk Tim Penggagas Pelajaran Muatan Lokal atau memfasilitasi pihak lain untuk merumuskannya.
  • Keamanan dan kenyaman siswa dan guru harus dilindungi semua pihak termasuk aparat keamanan.
  • Kesejahteraan guru terutama guru-guru yang bertugas di kampung-kampung harus dinaikkan dana seperti ULP, Intensif, THR,

IV.    SARAN
  • Kami sebagai pelajar dan mahasiswa merindukan akan sebuah pendidikan yang benar-benar ditangani dengan serius oleh pemerintah daerah guna menentukan maju mendurnya daerah melalui Sumber Daya Manusia yang handal.
  • Terlaksananya sebuah konsep ini didasari oleh iman, pengetahuan dan rasa tanggung jawab yang sungguh-sungguh. Semoga konsep pemikiran, ide, gagasan dan argument yang kami berikan bisa menjawab sedikit dari sekian banyak kekurangan dari poros roda pendidikan di daerah.
  • Konsep atau buah pikiran yang kami berikan ini entah mau terlaksana atau tidak, kami hanya bisa berserah dan berdoa, karena ini bisa kami berbuat dan selebihnya TUHAN Yang Maha Kuasa (UGATAMEE) akan mengatur. Semoga semua yang kita rencanakan berjalan sesuai dengan cita-cita dan harapan kita bersama. Amin
Hasil DISKUSI Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire-Paniai-Dogiyai-Deiyai
Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo
Mengetahui
Kord.Sie Pendidikan dan Penalaran

TTD
Alfridus Dumupa 
Source : ipmanapandode jogja dan solo

MAUT MELANDA SURGA ORANG PAPUA

 (Jeritan Dari Negri Terbit Mentari )
Oleh : Selfhy Yeimo 
Orang Papua dibunuh dengan Moncong Senjata milik NKRI (Foto:Ilustrasi)

Mari menyanyi bersama sa, tong nyanyi lagu ini : Kami menangis didalam sengsara Kami menjerit didalam derita Susah pun datang menindih i......i... Kapan kah kesuraman Akan BAPA Angkat dari atas tanah leluhur ini..... Ratapan Pergumulan dari anak-anakmu Mengharapkan ada kebebasan Diatas tanah ini ada jeritan tangis Seruan duka dari lorong negriku o...o.... Ada kah kedamaian di tengah angkara murka duniawi dapat kah kami kan TETAP BERDIRI TEGAK Ditengah kelam dunia.... (lirik lagu/Anonim ) Lirik lagi diatas mengawali dan membuka rekaman kisah tangis di Negri Surga kecil Yang jatuh dari langit ini.

Dengan harapan kiranya rekaman kisah ini dapat memberikan inspirasi dan penghiburan yang akan membangkitkan semangat juang bagi penghuni negri Surga Kecil ini, untuk menyelamatkan nya dari bahaya api neraka. Tentu kita tahu gambaran umum tentang surga! Bagi kaum Kristiani cerita tentang Surga sangat tidak lazim. Selain diajarkan diwaktu kecil di Sekolah Minggu oleh Pengasuh Sekolah Minggu .

Didalam kitab sucinya kaum nasrani (Pengikut Kristus Yesus ) yang di sebut ALKITAB banyak menceritakan tentang kisah Surga ini. Dalam kejadian pada pasal satu kisah penciptaan alam jagad raya serta segala isinya di tuliskan. Lebih jauh Yesus Kristus dalam misi penyelamatan bangsa Israel dan kemudian semua manusia yang telah jatuh dalam dosa konon oleh Manusia pertama ( Baca Kejadian pasal 3/Manusia Jatuh Dalam Dosa). Tuhan Yesus Banyak menggambarkan keadaan dan situasi dari Surga itu sendiri dalam Empat kitab yang mencatat tentang. KELAHIRANNYA, KEHIDUPANNYA PELAYANAN NYA HINGGA KEMATIAN DAN KEBANGKITANNYA SERTA KENAIKANNYA KESURGA yakni kitab Matius, Injil Markus, injil Lukas dan injil Yohanes, dan kemudia Tempat itu (Surga) di janjikannya bagi bangsa Yahudi Israel dan semua orang yang percaya Kepada Ajaran dan misi penyelamatannya.

Seperti yang di gambarkan didalam Alkitab bahwa Surga itu adalah : Tempat yang Indah Penuh dengan Penuh Damai Tempat yang nyaman Tempat yang tidak ada tangisan,duka, ratapan, kesedian,ke susahan Tempat dimana tidak ada kelaparan Tempat dimana tidak ada perang, Tempat yang tidak ada saling menjajah dijajah, ditindas Tempat yang penuh kasih Tempat yang jalannya terbuat dari Emas, permata dan Kristal, tidak membutuhkan PLN untuk meneranginya (Baca Wahyu 21 dan pasal 22) Surga merupakan tempat yang Damai, tentram,bahagia selamanya, bersifat kekal selamanya. Betapa indah surgaNya Tuhan pemilik Alam jagad raya ini, Tuhan yang hidup, Tuhan yang adil, Tuhan yang Penuh kasih. Mengapa di surganya Orang kulit hitam dan rambut keriting sagat jauh dengan surganya Tuhan ?

Mengapa Surganya Orang Malenesia penuh dengan Tangisan, penuh dengan jeritan, penuh dengan dukacita, penuh dengan pembunuhuan, penuh dengan intimidasi, penuh dengan marginalisasi, penuh dengan pemenjarahan, penuh dengan Yudas –Yudas kelaparan, Penuh dengan penjilat- penjilat Kemunafikan penuh dengan pembantain dan Kejahatan yang lain? Mengapa ? Mengapa ? Adakah yang Salah? Adakah yang menyimpang ? adakah yang keliru? Dukacita melanda Surga nya Orang Papua, Tiga minggu lalu berita duka dari teluk cenderawasi pemimpin pembela dan pelindung rakya pemilik negri ini terdengar di kuping hasil dari skenario kaum penjajah dan kaum yudas –yudas kelaparan 4 hari lalu berita duka dari Negri Agamua, kehilangan tokoh adat terbaik dari Agamua di woyaowa (rumah panjang) bernama Buah Matoa, entahlah.

4 hari lalu berita duka dari Negri etnis Walack karena kehilangan Putri Terbaiknya yang bersuara bagi bangsanya Papua di Tanah kaum penindas. 2 hari lalu dua lelaki tampan dari Negri Yahukimo, ditemukan tewas di kilo 9 Koya –Numbay 1 hari lalu laki-laki papua tampan penghuni Honai Nayak 2-Numbay harus pergi meninggalkan surga kecilnya menuju Surganya Tuhan, karena timah panas menghilangkan nyawanya. Beberapa jam lalu berita duka dari tanah orang, negrinya kaum penjajah, anak Papua harus berpulang ke Surganya Tuhan, Mati ditangan kaum penjajah tak bertanggungjwab. Dan beberapa berita duka lagi yang baru di bisikan angin tanah tabi. Jeritan kesakitan dan tangisan ketakutan terdengar dari RS. Bhayangkara Kota Raja (Tempat PENCABUTAN NYAWA TERAKHIR bagi putra/putri penghuni dan pemilik Surga Kecil Papua) Entahlah hari ini akan terdengar berapa lagi, besok berapa? Lusa berapa? Tula berapa? Minggu depan berapa? Berapa lagi lagi lagi yang harus saya hitung ? Satu.... dua.. tiga... empat...... lima.... enam... seratus...... dua ratus....... seribu...... dua ribu...... Satu juta.... Dua juta.... bukan kah jumlah kita semakin sedikit diatas Surga kita ini? Kita mau tunggu berapa lagi? Kita mau tunggu kapan lagi? Menghentikan rantai kematian di Surga kita ini Sio air mata negri, derita negri, jeritan anak bangsa, tangisan kandungan mama –mama di balik gunung, di atas pesisir pantai, di balik rawa-rawa, di tengah pulau- pulau, di tepian danau, karena anak-anak yang pernah singga dan lahir dari rahim mereka yang hangat, mati dan hanya tinggalkan nama sebelum capai tujuan dasar.

Mari tong nyanyi lagu ini lagi bersama abang SEFANYA YEWUN: Musim berlalu ... tinggalkan kesan Dukacita melanda air mata menetes Itulah kehidupan ditanah ini Memang bagiku sediam bisu Hanya harap kepadanya Pertolongan Tuhanku Ku datang dalam doa berjusud pada-Mu Mungkin saja hari ini Banyak sudah air mata Yang Menetas membasahi tanah ini Namun jnagan lah gelisa, masih ada hari esok matahari kan bersinar kembali Yesus sanggup menghapus air mata negri ini Gantikan sukacita abadi selamanya.. Jika Surganya Orang Papua, ras Melanesia Rumpun Negroid ini sudah seperti ini, Mungkin kita harus Berbenah Diri dan Adakah yang salah dari kita? Adakah kekeliruan dari kita? Kita sudah lupa akan budaya kita? Mungkin kah kita sudah banyak yang menjadi Yudas- yudas yang takut lapar? Mungkin kah kita muda di tipu, mudah di aduh domba, muda di pecah belah , muda di beli dengan Besi Berjalan Avansa, kijang, Vortiner, Kursi Empuk, Honai duplikat dari bata? Entahlah, saya hanya dapat berkata entahlah, Berdiam di sudut kota ini, karena di Surga ku tak sama dengan Surga Nya sang Khalik.

Ku ucapkan dari hatiku yang dalam: Mat berjumpa di negri baka Ladys Gombo dan kawan seperjuangan, bersama patriot-patriot terdahulu yang lebih dahulu berpulang ke Surganya Tuhan. Dan saling sapa dalam Salam Persatuan kita sapaan bangsa PAPUA Koya o, wiwa o, kaonak,nayak, tabea, Dormom, Yefmum, poy,Waniam, wa awa wa.... Kiranya ada ketenangan bagi kalian disana. Kami akan melanjutkan perjuangan yang kalian tinggalkan ini, Demi mewujudkan SURGANYA ORANG PAPUA SAMA SEPERTINYA SURGANYA TUHAN YESUS “ Seperti Doanya Yesus,”JADILAH kehendak Mu di bumi ini Seperti DiSurga”

 
SALAM REVOLUSI!
(KITA HARUS MENGAKHIRI)
REVOLUSI BERSAMA SANG KHALIK YANG BAKA
REVOLUSI DALAM IKATAN KEBERSAMAAN!

*********************************************************************

KAPAN

Selfhy Yeimo
Kapan kau datang
Untuk membawa cinta di hadapanku
Karena dirimu bagai kemegahan halilintar
Membuat kalbuku menggelepar
Kau bawa datang gairah hidup baruku

Kapan saling menatap
Untuk melahirkan senyuman manis
Karena pipi manismu menusuk kalbuku
Cahaya dan tatapan matamu indah
Mengukir Kata cinta di kanvas kalbuku

Kapan saling bercakap
Untuk mendengarkan Nyanyianmu
Karena nyanyian lidahmu membuat aku terlena
Lupa dunia dan sorga
Hingga aku lelap dalam merdu suaramu

Kapan saling cium cumbu
Untuk berbagi kasih dan cinta
Karena lembut tubuhmu menyejukan jiwaku
Desah nafasmu yang sejuk
Membawa aku terbang ke sorga

Kapan kau pergi
Untuk membawa cinta ini di hadapan mereka
Karena dirimu bidadari, hingga banyak lelaki yang memujamu
Kau bawa pergi gairah hidupku
Hanya meninggalkan jejak cinta

(Karya : Alfrid Dumupa, Padang Gersang, Yogyakarta, 01/07/14)

Yeimo Yagamo, I Love You

Kehadiranmu saat ini tak kuduga, aku tak pernah bermimpi menemuimu dan juga tak berharap memelukmu apalagi menciummu. Cinta memang ajaib hatiku bergetar bahwa aku sedang  jatuh cinta, jika cinta ini terus tumbuh dalam kalbu ini aku akan memelukmu dengan tak bosan dan  terus menciummu.

Aku harus jujur bahwa aku tak mampu sendiri tanpamu melawan deras hidup ini, dan tak ingin cinta ini khiamat ditelan waktu tanpa bekas. Karena dengan alasan cinta ini, aku ingin memilikimu agar nanti aku  bisa terdekap dalam peluk mesramu hingga kau lilit aku dengan bendera bintang kejora. Kau memang bidadari negeri ini, negeri hitam manis. Aku disini terlena dengan jalan dan Ideologimu karena dengan itu membuat aku tak sepi di jalan ini. Bisikan cintamu melumpuhkan kakiku, kau membawaku terbang jauh ke negeri  anggrek hitam.

Kau wanita flamboyan yang berasal dari negri anggrek hitam, hingga kini akan ku jadikan anggrek hitamku yang manis . Sayang, berpalinglah kepadaku, karena aku mau mengajakmu susuri jalan setapak, jalan yang bertaburan dengan darah dan air mata. Aku tahu bahwa aku sendiri sulit untuk menempuh jalan ini, jalan yang sengaja dibuat oleh mereka yang tak bertanggung jawab di atas tanah tercinta ini.  Anggrek hitamku, sayang kita akan melangkah bertatih dengan memikul beban yang melilit tubuh ini, serta melawan penjajah kejam yang hadir diatas tanah ini. Hidup ini hanya sekali. Mari terus melangkah dengan cinta ini, yakinlah bahwa kita akan meraih  kebebasan dalam cinta yang sempurna.

Dengan sungguh cinta
Aku menantimu , aku merindukanmu di pesimpangan jalan ini. Aku mencarimu hingga tiba di padang gersang sebagai para pengembara asmara. Bila aku mencintaimu aku tak mungkin memberimu mentari tetapi aku mampu menjadi seberkas cahaya, agar kau menjadi terang kehidupan

Bila kau mengizinkan aku mencintaimu, disini aku tak mungkin memberimu samudera tetapi aku hanya mampu menjadi setetes embun, agar kau menjadi mata air kehidupan bagi mereka yang membutuhkan di negeri emas ini, dan aku pun tak mungkin memberimu bumi tetapi aku mampu menjadi sejengkal tanah, agar kau menjadi pemijak diatas tanah ini, dan jika kau masih memberikan kesembatan untuk mencintaimu, aku tak mungkin memberimu surga tetapi aku mampu menjadi seorang pendoa agar kau menjadi pemilik kekal kehidupan agar cinta kita terbendung disana.

Ketika cinta kita tak terbendung yang dibutuhkan saat ini hanya kepercayaan, biarkanlah kasihku dan kasihmu bersatu. Seperti orang papua ingin bersatu malawan penindasan
Ketika kasih kita bersatu yang dibutuhkan sekarang hanya pengorbanan, biarkanlah diriku dan dirimu berkorban. Seperti orang papua korbankan nyawanya demi harga diri
Ketika pengorbanan kita terbukti, biarkanlah diriku dan dirimu menemukan makna kebebasan. Seperti orang papua akan menemukan makna kebebasan menuju kemerdekaan yang hakiki.

Hanya ini bisa ku persembahkan untuk ko...! Mee Yagamo, I Love You
Akan kujadikan kekasih dan teman hidup yang abadi

(Sebuah Ungkapan Rasa dari Hati) 

Oleh : Dumupa Tiwaiwode Alfrid)***
Yogyakarta, 3 Juli 2014

MOP : Rius Belajar Bahasa Inggris

Ibu guru : klu "ibu saya",,,,,,?????
Rius : My Mother,,,,!!
Ibu guru : "ayah saya????"
Rius : My Father....!!
Ibu guru : teman saya???
Rius : My Friend !!
Ibu guru : wah,,,,bole juga eh su pintar ni,,,,,kalau " Pacar Saya,,,,???
Rius : My...Tua,,,,!!
Ibu guru : ???

Hehehe...smoga terhibur.!
Cerita MOP

Demokrasi di Tanah PAPUA: ”Dalam Bayang-Bayang Imperialisme Ekonomi”

Alfrid Tiwaiwode Dumupa
Era Dekolonisasi penjajahan mutahir negara-negara besar dan makmur atas wilayah lainnya dalam bentuk invansi kekuasaan dengan tujuan menguasai wilayah tersebut. Pecahnya Perang dunia ke I & II tak lain adalah pendudukan sistem dan ekonomi terhadap wilayah jajahan yang dianggap perlu untuk memasifkan tatanan ekonomi sebagai ladang penghisapan.

Bentuk pendudukan terhadap suatu wilayah oleh penjajah dilakukan dengan berbagai cara, baik invansi dengan kekerasan senjata, doktrin ideologis serta program-program berupa bantuan ataupun pinjaman.

Papua Barat dalam dekade dekolonisasi di tandai dengan semboyan GOLD, GOSPEL dan GLORI”Emas-Agama-Kejayaan” di kumandangkan oleh Ottow dan Geisler, dua orang berketurunan jerman dan perancis tiba di pulau Mansinam-Manokwari 1885. Setelah sebelumnya penjajakan dilakukan oleh bangsa Cina yang bermaksud mencari rempah-rempah (kebutuhan dagang).

Ketika Indonesia berhasil menaklukan penjajah Belanda, benteng pertahahan Belanda kemudian beralih menguasai wilayah Papua Barat, dengan sistem pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Gubernur, berbeda dengan wilayah Hindia Belanda termasuk Nusantara hari ini. Melalui berbagai perundingan antara Belanda dan Indonesia memunculkan petikan-petikan kesepakatan yang isinya beragam, atau masing-masing pihak belum final menyepakati siapakah yang berhak atas Papua Barat.

Satu-satunya jalan terbaik bagi penguasaan wilayah Papua adalah selain menggunakan cara-cara konfoi pasukan tempur, diplomasi kepentingan politik maupun ekonomi sebagai senjata mematikan. Sebelum sengketa wilayah kekuasaan Indonesia dan Belanda atas Papua Barat, seorang ahli biologi Asal Lousiana-Amerika Menemukan cadangan Emas terbesar di Dunia yang sekarang di kenala Freeport Tembaga Pura.

Ekonomi dan Politik Freeport
Celah untuk mengoperasikan cadangan emas tersebut belum bisa dilaksanakan, karena Papua berstatus daerah dekolonisasi ( wilayah tak berpemerintahan). Amerika Serikat mengintervensi perundingan RI-Belanda dengan mendorong agenya di PBB untuk mendesak Belanda Mundur dari Papua Barat, sebab pandangan USA saat itu bahwa Sukarno bisa di pengaruhi untuk kepentingan Investasi. Nyatanya Presiden Sukarno kemudian menerapkan Nasionalisasi Aset-Aset Asing demi kedaulatan Ekonomi rakyat Indonesia.

Upaya ilegal untuk menghantam rezim Sukarno, pemerintahan Amerika mengirimkan pasukan CIA secara terselubung dalam bentuk Jaringan Terorganisir CIA di Indonesia. Melalui kerja-kerja bawah tanah agen CIA di Indonesia lahirlah peristiwa GESTAPU (Gerakan Tigapuluh September/G30-S). Sukarno pun lengser secara tak bermartabat, walaupun berhasil mengkleim Papua Barat sebagai wilayah Nusantara dengan stigma wilayah Hindia Belanda, dimana Papua tak termasuk pemerintahan Hindia Belanda karena di dipegang oleh seorang Gubernur New Guinea.

Awalnya embrio kapitalisme ditandai dengan kedatangan para penjelajah dunia maupun para ilmuwan yang juga menyamar sebagai orang agamais. Sejak itulah berbagai komunitas bangsa terjajah menyaksikan gelombang orang-orang eropa dari jenis yang berbeda-beda; Belanda, Portugis, Inggris dan Perancis yang semuanya mempunyai pengaruh politik atas suatu daerah yang didatangi. Disetiap tempat dimana orang-orang seperti Colombus (benua Amerika), Ottow-Geisler (Pulau Mansinam) Papua Barat, tiba-tiba banyak bermunculan personil militer, tambang-tambang raksasa, administrator imperial, pendeta, penjelajah, misionaris, pejabat colonial, seniman, pengusaha dan pemukiman pendatang (Transmigran). Yang menetapkan satuan penghancur dan meninggalkan luka permanent pada komunitas wilayah dimana mereka berada, kemudian peralihan mulai nampak. Imperialisme itu benar-benar nampak jargonnya.

Reaksi investasi kepentingan Amerika atas Indonesia, melalui Suharto kemudian lahirlah Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UUPMA) pertama tahun 1967. Rezim Suharto kemudian melunakan pengerukan kekayaan Indonesia oleh investor Asing di tandai dengan penandatangan Kontrak Karya pertama Freeport oleh Suharto dengan pihak AS dalam status Papua Barat masih di perbincangkan yaitu adanya jajak pendapat yang di kenal dengan sebutan Penentuan Pendapat Rakyat Papua (PEPERA) akan dilaksanakan pada tahun 1969 sebagai titik final atas perseteruan perebutan Papua selama masa perundingan.

Bertepatan dengan pengesahan UUPMA, PT. Freeport Mc Morant Cooper & Gold yang berpusat di NewOrleans Amerika Serikat, memualai pengerukannya dengan dukungan perusahaan Inggris bernama Rio Tinto. Keduanya menyuplai Emas, Tembaga, Batu Bara dan Merkuri pada tahun 1968 sampai sekarang.
.      
Di ketinggian 4200 m di tanah Papua, Freeport McMoran (FM), perusahaan induk PT. Freeport Indonesia mengangkangi tambang emas terbesar di dunia dengan cadangan terukur kurang lebih  3046 ton emas,   31 juta ton tembaga, dan 10 ribu ton lebih perak  tersisa di pegunungan Papua. Berdasarkan perhitungan kasar, cadangan ini diperkirakan masih akan bisa dikeruk hingga 34 tahun mendatang.

Menurut catatan departemen Energi dan Sumber Daya mineral, sejak 1991 hingga tahun 2002, PT Freeport memproduksi total 6.6 juta ton tembaga, 706 ton emas, dan 1.3 juta ton perak. Dari sumber data yang sama, produksi emas, tembaga, dan perak Freeport selama 11 tahun setara dengan 8 milyar US $. Sementara perhitungan kasar produksi tembaga dan emas pada tahun 2004 dari lubang Grasberg setara dengan 1.5 milyar US$. Berdasarkan laporan pemegang saham tahun 2005, nilai investasi FM (Freeport Mc Morant) di Indonesia mencapai 2 bilyun dollar.

Freeport merupakan perusahaan emas penting di Amerika karena merupakan penyumbang emas nomor 2 kepada industri emas di Amerika Serikat setelah Newmont. Pemasukan yang diperoleh Freeport McMoran dari PT Freeport Indonesia, dan PT. Indocopper Investama (keduanya merupakan perusahaan yang beroperasi di Pegunungan Tengah Papua) mencapai 380 juta dollar (hampir 3.8 trilyun) lebih untuk tahun 2004 saja. Keuntungan tahunan ini tentu jauh lebih kecil pendapatan selama 37 tahun Freeport beroperasi di Indonesia.

Kontrol atas penanaman modal dan pasar adalah imperialisme, kolonialisme memudahkan ekspansi imperialisme dengan memastikan suatu kendali total bagi sang control. Tentu saja apa pun yang dikehendaki imperial diteruskan oleh colonial itu sendiri. 

Keterlibatan PT. Freeport-Rio Tinto dalam menyediakan fasilitas bagi pelaku Pencaplokan tanah adat, pelanggaran HAM, penghancuran tatanan adat, perusakan dan penghancuran ibu bumi, perusakan lingkungan hidup, penghancuran sendi-sendi ekonomi rakyat, dan pengingkaran eksistensi orang Amungme, adalah fakta yang dirasakan penduduk pegunungan tengah Papua, dimana operasi tambang Freeport berlangsung.

Terjadinya konspirasi antara AS dan Indonesia dengan mengorbankan rakyat Papua hanya untuk memperoleh sumber daya alam Papua, bentuk yang paling nyata Freeport.
Tidak heran jika frekuensi protes terus dilakukan rakyat Papua untuk menentang konspirasi sang colonial yang sejatinya menajalankan agenda imperialisme Amerika serikat di Papua, yang rakyat Papua rasakan. Bahkan patut diduga, salah satu kontributor menguatnya tuntutan merdeka rakyat Papua dari Republik Indonesia adalah akumulasi kemarahan rakyat Papua terhadap aneksasi Papua Barat kedalam Republik Indonesia atas kepentingan kehadiran ekspansi baru serta sokongan yang diberikan pemerintah dan militer terhadap perusahaan itu.

Dalam nota keuangan tahunannya kepada pemegang saham, selama 3 tahun hingga tahun 2004, total pengasihan PT. Freeport kepada Republik Indonesia hanya kurang lebih dari 10-13 % pendapatan bersih di luar pajak atau paling banyak sebesar 46 juta dollar (460 milyar rupiah).  Demikian Freeport juga mengklaim dirinya sebagai penyumbang pajak terbesar di Indonesia yang tidak jelas berapa jumlahnya. Menurut dugaan, pajak yang disumbang PT. Freeport Indonesia mencapai 2 trilyun rupiah (kurang dari 1 % Anggaran negara). Pertanyaan yang patut dimunculkan, apakah dengan demikian Freeport menjadi demikian berharga dibanding ratusan juta pembayar pajak lainnya yang sebenarnya adalah warga yang patut dilayani negara? Atau dengan menjadi pembayar pajak terbesar, PT Freeport sebetulnya sudah 'membeli' negara dengan hanya menyumbang kurang dari 1% anggaran negara? Bagaimana dengan agregat pembayar pajak yang lain?

Ketersediaan cadangan Emas yang banyak, membuat PT. Freeport mempercepat perpanjangan konrak karya, dari kontrak karya pertama ”1967-1997” kontrak karya kedua di teken pada tahun 1991 (6 tahun sebelum massa kontrak pertama habis).

Krisis ekonomi dan Politik di Indonesia yang terjadi awal tahun 1997 berbagai gejolak sosial dan ekonomi mulai melanda negeri pertiwi ini. Posisi kontrak karya ke-II Freeport telah berada pada posisi yang aman. Adalah kejahatan atas Undang-Undang Investasi di Indonesia, Freeport seharusnya memulai kontrak karya ke 2 tahun 1997 tetapi di percepat kontrak kedua tahun 1991. Dasar Negara Adalah Aturan Rumah Tangga Negara Masing-Masing, UUD 45 yang didalamnya UU PMA dipermainkan se-enaknya oleh perusahaan Amerika bernama PT. Freeport Indonesia. Pertanyaanya adalah apakah aturan Undang-Undang Penanaman Modal Asing bagian dari UUD 45?, jika demikian proses kontrak Karya FI sesuai kah? Jelas bahwa UU PMA No. 1 Tahun 1967 tak mengijinkan investasi apapun untuk memperpendek perjanjian kontrak karya, apalagi belum jatuh tempo kontrak pertama. Apakah UU Penanaman Modal Asing dibuat sesuai aturan Undang-Undang Amerika Serikat ataukah Sesuai dengan muatan UUD 1945...

Ada-ada saja jalan mulus bagi pengerukan bumi Indonesia apalagi Papua Barat dengan stigma pembangunan Nasional lima tahun-era Suharto hingga era Otonomi Khusus dalam ranah semboyan Reformasi. Perubahan sedikit tatanan demokrasi di Indonesia memulai evaluasi tersendiri bagi kekangan modal di Indonesia. Investasi Asing yang semena-menapun mulai goyah atas rong-rongan reformasi yang menghendaki perubahan di segala bidang. Tidak ada bedanya dengan reformasi, Jaman Orde Lama dan Orde Baru. Tak satupun sistem apalagi rezim yang bergigi terhadap ekspansi kapitalis di Indonesia untuk mengangkangi kekayaan alam...

PT. Freeport ”Sang” Penjahat Asing
Ekonomi pembangunan dan integrasi nasional adalah bungkus dari program pengayaan dan penguatan aparat keamanan dan perusahaan transnasional seperti Freeport. Hasil dari program itu adalah kemakmuran luar bisaa pihak luar, yang di sisi lain adalah juga kemiskinan luar bisaa bagi rakyat Papua dan tentu saja pemerkosaan terhadap hak-hak rakyat Papua oleh TNI sebagai alat Negara Indonesia yang difasilitasi secara utuh oleh PT. Freeport-Rio Tinto.

Yang kehilangan adalah penduduk asli Melanesia di Papua, termasuk warga Amungme. Lahan-lahan hak ulayat adat telah dirampas dan kemakmuran rakyat disedot. Rakyat Papua sungguh tidak memiliki hak hukum, politik, dan sumber daya ekonomi atas penyingkiran itu.

Pembangunan ekonomi dan integrasi nasional telah membuat Papua seperti daerah jajahan atau pendudukan bagi aparat dan segelintir elit di Indonesia, menjadi miskin dan minoritas yang lemah di atas Tanah Papua sendiri. Setiap pengembangan pertambangan Freeport Indonesia, terjadi gangguan lebih jauh terhadap kehidupan rakyat Papua,

khususnya Amungme dan tujuh suku lainnya diseputar areal pertambangan PT.Freeport Indonesia. Contoh, pada tahun 1980, pemerintah Indonesia dan Freeport menempatkan beberapa warga Amungme di sebuah dataran rendah dan mendorong mereka melakukan budi daya tanam yang jauh dari daerah asal. Hanya beberapa tahun setelah penempatan itu, 20% dari anak-anak Amungme meninggal karena penyakit malaria. Sebabnya, sebagai penghuni dataran tinggi, mereka memiliki kerentanan terhadap penyakit yang ada di dataran rendah. Dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan Amungme tidak pernah dimonitor dan ditelaah.
Kanibalisme Freeport
Sumbangan Freeport terhadap bangkrutnya kondisi alam dan lingkungan juga tidak kalah besar.  Menurut perhitungan WALHI pada tahun 2001, total limbah batuan yang dihasilkan PT. Freeport Indonesia mencapai 1.4 milyar ton. Masih ditambah lagi, buangan tailing ke sungai Ajkwa sebesar 536 juta ton. Total limbah batuan dan tailing PT Freeport mencapai hampir 2 milyar ton lebih. Prediksi buangan tailing dan limbah batuan hasil pengerukan cadangan terbukti hingga 10 tahun ke depan adalah 2.7 milyar ton. Sehingga untuk keseluruhan produksi di wilayah cadangan terbukti, PT FI akan membuang lebih dari 5 milyar ton limbah batuan dan tailing.  Untuk menghasilkan 1 gram emas di Grasberg, yang merupakan wilayah paling produktif, dihasilkan kurang lebih 1.73 ton limbah batuan dan 650 kg tailing. Bisa dibayangkan jika Grasberg mampu menghasilkan 234 kg emas setiap hari maka akan dihasilkan kurang lebih 15 ribu ton tailing perhari, yang jika dihitung dalam waktu satu tahun mencapai lebih dari 55 juta ton tailing dari satu lokasi saja.

Penemu Benua Amerika-Cristopher Colombus dimata bangsa Maori di Selandia Baru(New Zeland) sebagai sosok paling menakutkan, tidak lain adalah bahwa penemu dianggap sebagai jalan mulus bagi masuknya cengraman kolonialisme dan imperialisme-puncak es dari kapitalisme sejati.

Tahun 1907, pemerintah kolonial Belanda mengirim seorang yang dikenal penduduk Papua waktu itu sebagai seorang misionaris yang hendak menyebarkan ajakaran Kristen, mengadakan ekspedisi ke daerah bersalju tersebut, yang dipimpin oleh Dr. H.A Lorentz, dan pada tahun 1919 daerah itu dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi (baca: Leith 2003). Tahun 1936, ekspedisi Belanda lainnya menjelajahi pegunungan ini dari Laut Arafura, dan memberi nama Ertsberg untuk gugusan batu karang indah setinggi 180 meter yang menjulang dari padang rumput alpen Carstensz, warna biru-kehijauan menandakan perkiraan adanya kandungan tembaga berkualitas tinggi. Lebih dari 3 miliar ton tailing dan lebih dari empat miliar ton limbah batuan akan dihasilkan dari operasi PTFI sampai penutupan pada tahun 2040.

Gold-Gospel dan Glory, tri tunggal bagi penyebaran agama di Papua Barat. Melalui Ottow dan Geissler-pendatang asal jerman, keduanya berhasil menciptakan paradigma baru, kelahiran baru merambah di seantero wilayah Papua sampai hari ini, sejak 5 Februari 1885, diperingati rakyat Papua sebagai hari pekabaran injil.

Peristiwa kedatangan Bangsa Jerman tidak lain adalah bersamaan dengan praktek dekolonisasi pasca perang ideologis Timur dan Barat (Sosialisme vs Kapitalis). Perang dunia ke II, Semangat menundukan dan menguasai wilayah tak berpemerintahan gencar dilakukan negeri-negeri kuasa dunia.

Kemana Freeport membuang limbah batuan? Limbah batuan akan disimpan pada ketinggian 4200 m di sekitar grassberg. Total ketinggian limbah batuan akan mencapai lebih dari 200 meter pada tahun 2025.  Sementara limbah tailing secara sengaja dan terbuka akan dibuang ke Sungai Ajkwa yang dengan tegas disebutkan sebagai wilayah penempatan tailing sebelum mengalir ke laut Arafura. Berdasarkan analisis citra LANDSAT TM tahun 2002 yang dilakukan oleh tim Walhi, tailing Freeport tersebar seluas 35,000 ha lebih di DAS Ajkwa. Tailing masih menyebar seluas 85,000 hektar di wilayah muara laut, yang jika keduanya dijumlahkan setara dengan Jabodetabek.  Total sebaran tailing bahkan lebih luas dari pada luas area Blok A (Grasberg) yang saat ini sedang berproduksi. Peningkatan produksi selama 5 tahun hingga 250,000 ton bijih perhari dapat diduga memperluas sebaran tailing baik di sungai maupun muara sungai.
   
Biaya yang dikeluarkan Freeport untuk mengatasi persoalan lingkungan berkisar antara 60 – 70 juta dollar per tahunnya mulai dari tahun 2002. Total biaya yang telah dikeluarkan Freeport selama 3 tahun untuk urusan lingkungan sekitar 139 juta dollar atau setara dengan 6 kali lipat anggaran Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Freeport tidak lagi menyebutkan Ajkwa sebagai sungai, tetapi sebagai wilayah tempatan tailing yang 'disetujui' oleh Pemerintah Republik Indonesia. Freeport bahkan  menyebutkan Sungai Ajkwa sebagai sarana transportasi dan pengolahan tailing hal mana sebetulnya bertentangan dengan hukum di Indonesia.
   
Paramiliter Penjaga Modal”Whots Dog”
Sebagai salah satu “daerah” di Indonesia yang sangat rentan gejolak politik, Papua dapat dikatakan sebagai daerah basis penampungan militer terbesar kedua setelah Aceh dengan Darurat Sipil-nya. Secara resmi tidak dikeluarkan sebuah keputusan politik untuk menduduki Papua seperti di Aceh, namun dalam kenyataan proses represi dan pengiriman Tentara dan Polisi ke Papua merupakan program politik Jakarta yang secara berkala melakukan proses tersebut. Ada rotasi enam bulan sekali yang rutin dilakukan TNI untuk menjaga territorial Papua dari berbagai gerakan rakyat. Di Papua, berbagai rotasi stuan non-organik yang bisaa ditugaskan disana, dikenal dengan sebutan Pasukan Pengamanan (PAM) yang secara rutin ditempatkan di pos-pos perbatasan Papua – PNG, juga ditengah-tengah pemukiman rakyat Papua didaerah pedalaman, maupun dikota-kota Papua yang secara struktural telah diatur dalam mekanisme Teritorial Militer dari tingkatan Kodam, Korem, Kodim, Koramil dan sampai pada tingkatan Babinsa.

Selain itu basis penempatan TNI/Polri di Papua juga dilakukan dengan metode penjagaan “asset-aset vital seperti Multi National Cooperate” antara lain: Freeport, British Proteleum, Conoco – Philips, caltex dan Korindo Group. Hal yang sama dilakukan dengan mekanisme penempatan pasukan TNI / Polri pada Perusahaan HPH diberbagai daerah di Papua dan beberapa Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit didaerah-daerah Papua. Hal ini juga dilakukan melalui sistim penempatan TNI/Polri secara darurat misalnya melalui pengamanan pemilu atau juga kalau ada konflik-konflik yang secara kebetulan muncul di Papua. Mekanisme penempatan pasukan TNI/Polri seperti ini yang lazim dilakukan di Papua. Hal ini dilakukan tentara dengan maksud legitimasi penempatan personilnya, juga merupakan bagian dari upaya memudahkan kampanye public TNI / Polri di Indonesia atas kebijakan-kebijakan darurat tersebut diatas dan pelanggengan bisnis militer yang melingkupi rotasi tentara ini.

Wilayah Tembaga pura Timika Papua sering terjadi baku tembak antara Korps TNI AD dengan Korps Kepolisian. Insiden mil 62/63-2003 yang menewaskan 2 warga Amerika tim POLDA Papua terjun ke lapangan untuk investigasi kemudian dihadang oleh angkatan Darat di Mil 50.

Stigma separatis kemudian berubah menjadi stigma teroris-payung hukum akibat serangan 11 september 2001. ada saja penduduk sipil Papua yang nota bene sejak dahulu dicap suharto dengan nama GPK(gerakan pengacau keamanan) khusus untuk legitimasi pengamanan aset FI. Sejalan dengan paradigma itulah 8 warga sipil ditangkap.

Pengalaman terburuk dari praktek pertambangan di manapaun-agen tambang disuburkan untuk membentengi laju produksi. Antonius Wamang yang di tuduh terlibat dalam insiden mil 62/63 Timika mengaku dalam BAP (Berkas Acara Pemeriksaannya di Mabes POLRI bahwa dua minggu sebelum penembakan ia menginap di kediaman salah seorang perwira yang juga memberinya butir peluru.

Beberapa kali kasus tembak-menemabk yang terjadi dan bukan hanya di Papua Barat. Namun kenyataanya bahwa Freeport sejak masuk di Papua Angkatan Darat terutama Kopassus menjadi pengamanan darurat bagi Freeport jika perusahaan ini terancam dengan dalih investasi negara harus di lindungi.

Mobilisasi aparat (TNI-POLRI) di Papua cukup nampak mobilitasnya. Tembagapura sebelum reformasi dan saat inipun pasukan AD lebih dominan, apalagi berkaitan dengan insiden Blokade beberapa bulan lalu. Tak ketinggalan bagi Marinir ( AL) cenderung memobilisasi korps di wilayah sorong dan Bintuni tempat BP (British Petroleum) perusahaan Inggris ini beroperasi.

Sedangkan Angkatan Udara (AU) dan Kepolisian diprediksi korps yang tak bergigih dalam penjagaan aset vital. Apakah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa bulan silam bahwa POLRI akan menjaga perusahaan akankah tercapai dalam Peraturan Pemerintah PP yang sedang di rancang. Dimana sengketa lahan antar korps kian ketat saat ini...

Konflik masyarakat sipil di sekitar wilayah pegunungan tengah kembali merebak, Kawamki lama membara, puncak Jaya tegang, penembakan sembrono batalyon Paniai terhadap warga sipil di Jila yang tak jauh dari wilayah eksplorasi freeport-sejalan dengan merebaknya demonstrasi gerakan rakyat di Papua untuk menuntut penutupan PT. FI. Di kubu aparat terjadi pengalihan wewenang penjagaan aset, Polisis berandil menjaga freeport, kecemburuan pendapatan lahan atas biaya pengamanan semata, menjadi bisa dengan merekonstruksi pertikaian. Modal sebagai pihak yang patut di gantung atas keterlibatannya terhadap sejumlah peristiwa kekerasan di Papua. Freeport sejatinya sangat berandil bagi hegemoni militer indonesia untuk melakukan pembantaian dan penghilangan nyawa penduduk sipil tak berdosa. Kekayaan alam kami dijarah, nyawapun dijarah, benar-benar demokrasi dan HAM sebuah ilusi paradoks bagi kapitalis berwacana Amerika.

Bukti konkrit dari serbuan aparat ke wilayah-wilayah, selain menciptakan konflik juga, secara massif penyokong tunggal kejayaan paramiliter adalah Freeport. Dukungan Dana Bagi kerja-kerja operasi keamanan Freeport dalam laporan resmi tahunannya, Freeport Mc Moran menuliskan bahwa dirinya membiayai dukungan uang sejumlah 6.9 juta dollar  pada tahun 2004,  lalu 5.9 juta dollar  tahun 2003 dan 5.6 juta dollar  tahun 2002 kepada pihak keamanan resmi pemerintah Indonesia (TNI). Pernyataan Freeport McMoran dalam membiayai TNI bukan hanya dilaporkan pada tahun 2005. Hampir setiap tahun, Freeport McMoran selalu melaporkan bahwa dirinya membiayai  TNI untuk melindungi keamanan. bahwa sesuai dengan kontrak karya, Pemerintah Indonesia wajib melindungi operasi PT Freeport yang merupakan objek vital. Karena alasan minimnya dana pemerintah untuk membiayai personil, PT Freeport menyediakan fasilitas kepada aparat negara untuk melindungi operasi, fasilitas, dan personil PT. Freeport Indonesia. Berikut kutipan laporan tersebut.
From the outset of PT Freeport Indonesia’s operations, the government has looked to PT Freeport Indonesia to provide logistical and infrastructure support and assistance for these necessary services because of the limited resources of the Indonesian government and the remote location of and lack of development in Papua. PT Freeport Indonesia’s financial support for the Indonesian government security institutions assigned to the operations area represents a prudent response to its requirements to protect its workforce and property, better ensuring that personnel are properly fed and lodged, and have the logistical resources to patrol PT Freeport Indonesia’s roads and secure its operating area. In addition, provision of such support and oversight is consistent with PT Freeport Indonesia’s obligations under the Contract of Work, reflects our philosophy of responsible corporate citizenship, and is in keeping with our commitment to pursue practices that will promote human rights, which include our endorsement of the joint U.S. State Department-British Foreign Office Voluntary Principles on Human Rights and Security.

Pertanyaan yang muncul adalah, apakah TNI berhak menerima uang dari perusahaan yang secara jelas disebutkan untuk menjaga keamanan perusahaan? Kedua, apakah tindakan memberi uang kepada alat negara secara langsung adalah tindakan yang benar secara hukum? Ketiga, apakah ini adalah bukti bahwa TNI di Timika bekerja untuk melindungi kepentingan PT Freeport Indonesia? Keempat, apakah ini adalah bukti keterlibatan Freeport dalam memicu terjadinya pelanggaran HAM berat di wilayah Timika seperti yang sudah terjadi selama puluhan tahun sejak Freeport mendaratkan cakarnya di Tembagapura?

 Reformasi mendorong TNI masuk kandang, kepolisian berperan di perkotaan. Papua Barat tahun 80 an perjuangan orang Papua untuk memprotes Freeport tidak seperti sekarang perjuangan dilakukan di kota-kota bahkan atas pantauan media. Wilayah Timika, saat itu, masuk dalam kategori daerah merah. Mereka tidak sempat berpikir bagaimana cara memperoleh manfaat dari kehadiran perusahaan ini.

PTFI berdiri dengan kokoh dan tidak tersentuh di bawah penjagaan ABRI saat itu, menimbulkan kesan di Timika ada sebuah negara dalam negara. Lihat saja insiden Bulan Maret 2006 200 an Massa Front PEPERA PB demo selama 3 hari di depan gedung plaza 89 tempat Freeport di Jakarta berkantor dijaga ketat oleh aparat kepolisian dengan mobilisasi 800 hingga 1000 personil. Siapakah yang memberi makan personil tersebut? Polsek Setiabudi?, Polda Metro Jaya? Ataukah Negara? Mungkin juga Freeport?. Ada dugaan bahwa 3 milyar dana diberikan Freeport kepada polisi untuk menjaga keamanan plaza 89.

 Peran penegakan Hukum yang kini sebagain besar cenderung dilakukan POLISI memiliki andil dalam membungkam gerak aktivitas individu maupun kelompok baik orang Papua maupun luar Papua. Studi kasus adalah penahanan 8 warga Timika oleh Polisi dengan tuduhan semena-mena terlibat dalam penembakan 2 warga AS di mil 62/63, (Baca: http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=88279) Penangkapan 8 warga sipil Timika tak jauh dari soal FREEPORT. Kekecewaan 10 mahasiswa Papua yang tergabung dalam BEM Papua terhadap kekejaman Freeport di Papua kemudian di lampiaskan dengan merusak gedung plaza 89. proses hukumnya ketika digelar, Freeport angkat tangan dan menyerahkannya kepada aparat polisi. Ada apa? Mengapa wakil Freeport menolak jadi saksi di pengadilan? Kejahatan Freeport di Papua lebih berat daripada perusakan gedung.

 Massa rakyat Papua yang tergabung dalam Front PEPERA PB ketika melakukan aksi di Jayapura 15-16 Maret pun berakhir dengan insiden berdarah yang menewaskan 3 polisi dan satu intelejen Angkatan Udara. Sipakah yang bertanggungjawab atas insiden tersebut? Front PEPERA PB dalam tuntutannya jelas bahwa mereka menuntut Freeport di Tutup. Freeport menuai kekerasan dan nyawa! Kita terenyak karena ”perang saudara berdarah” di Universitas Cenderawasih menyebabkan empat aparat meninggal dan puluhan orang luka-luka, termasuk wartawan. Ini bukan kekerasan terakhir karena pemerintah bergeming memenuhi tuntutan rakyat Papua. Jaminan pemerintah dan ditangkapnya 50-an mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) memulihkan harga saham Freeport di New York Stock Exchange (NYSE) ke 53,22 dollar AS (17 Maret 2006), walaupun belum kembali pada posisi 53,30 dollar AS (15 Maret 2006), apalagi pada 64,31 dollar AS (1 Februari 2006). Ketika kerusuhan Abepura (16 Maret 2006), saham Freeport sempat anjlok pada posisi 52,73 dollar AS. Nasib Papua ditentukan pemilik kapital di New York! Haruskah kita mengutuk bangsa yang tak pernah belajar dari kesalahan dan mengabaikan hak-hak warga negaranya puluhan tahun demi perjanjian internasional yang tak adil dan keuntungan para pemilik kapital di NYSE? Papua termasuk provinsi termiskin di Indonesia. Simaklah, tahun 2005, 80,07 persen dari 2,3 juta penduduk Papua hidup dalam kemiskinan, walaupun Gubernur Papua JP Salossa (alm) hanya mengakui orang miskin di Papua 30-40 persen. Kalaupun cuma 40 persen, sungguh tak masuk akal kemiskinan rakyat Papua di tengah kekayaan alam melimpah ruah!

Jakarta menganggap penting melindungi Freeport dari gerakan rakyat Papua.
Jarahan Emas yang menyuburkan kemiskinan

Resensi ekonomi, menambah kesenjangan kaya dan miskin. Eksploitasi sumber daya alam berjalan bersamaan dengan penghisapan culture budaya wilayah dan bangsa yang berdaulat. Bayangkan, bagaimanapun juga-TNI AD dan POLISI yang bertugas menjaga Freeport beradu kekuatan. Benteng keutuhan NKRI seakan menjadi adu jotos demi menjadi barisan terdepan yang kokoh bagi unjuk kekuatan dihadapan sang modal raksasa. Hanya karena semata-mata berebutan untuk mendapat upah keamanan dari perusahaan Amerika tersebut; pertama, kontra intelejend terus mengolah konflik agar terjadi keos antar orang Papua sendiri. Konflik kelompok tahun 2006 Kwamki-Mimika sejatinya perseteruan sengit lantaran siapa yang menjadi barisan terepan untuk menjaga asset Amerika, tak lama setelah pemerintah mengkususkan POLRI sebagai penjaga asset Asing. Paradigma bisnis aparat menjadi kenyataan dari luapan konflik antara kelompok.


Meski di tanah leluhurnya terdapat tambang emas terbesar di dunia, orang Papua khususnya mereka yang tinggal di Mimika, Paniai, dan Puncak Jaya pada tahun 2004 hanya mendapat ranking Indeks Pembangunan Manusia  ke 212 dari 300 an lebih kabupaten di Indonesia. Hampir 70 % penduduknya tidak mendapatkan akses terhadap air yang aman, dan 35.2% penduduknya tidak memiliki akses terhadap fasilitas kesehatan. Selain itu  lebih dari 25% balita juga tetap memiliki potensi kurang gizi. Jumlah orang miskin di kabupaten tiga kabupaten tersebut mencapai lebih dari 50 % total penduduk. Artinya, pemerataan kesejahteraan tidak terjadi. Meskipun pengangguran terbuka rendah, tetapi secara keseluruhan pendapatan masyarakat setempat mengalami kesenjangan. Boleh jadi kesenjangan yang muncul antara para pendatang dan penduduk asli yang tidak mampu bersaing di tanahnya sendiri. Boleh jadi pula, angka prosentase yang menunjukkan kemiskinan seperti akses terhadap air bersih, kurang gizi, akses terhadap sarana kesehatan mengandung bisa rasisme. Artinya, kemiskinan dihadapi oleh penduduk asli dan bukan pendatang.

Tabbel; periodesasi dana 1% royalti Freeport kepada pemilik hak ulayat


No.    Tahun    Hitungan Dollar    Hitungan Rupiah      
1.     1996    US$ 10.810.150    Rp. 25,2 Milyar      
2.    1997    US$ 12.742.915    Rp. 38,7 Milyar      
3.    1998    US$ 16.625.288    Rp. 179,7 Milyar      
4.    1999    US$ 21.117.015    Rp. 158 Milyar      
5.    2000    US$ 13.504.330    Rp. 117,2 Milyar       
6.    2001    US$ 17.317.229    Rp. 179,6 Milyar      
7.    2002    US$ 18.313.298    Rp. 172,3 Milyar      
8.    2003    US$ 21.841.766    Rp. 189 Milyar      
9.    2004    US$ 18.041.433    Rp. 161,8 Milyar      
10    2005    US$ 40.534.482    Rp. 393,8 Milyar      
     TOTAL    US$ 190.847.906    Rp. 1,6 Triliun     

Alokasi dana untuk tahun 2005 dalam bidang; Pendidikan Rp. 63,32 Milyar, Kesehatan Rp. 70,61 Milyar, Dukungan Adat Rp. 13,07 Milyar, Pengembangan Ekonomi Desa Rp. 12,18 Milyar, Sektor Agama Rp. 9, 67 Milyar, Program Khusus Rp. 5,78 Milyar, Untuk tiga Desa Rp. 35 Milyar, Manajemen dan Kapital Rp. 28.27 Milyar, Dana Abadi Rp. 26,58 Milyar.  

Rapor resmi perekonomian Papua, selama bergabung dengan Indonesia, sebenarnya tidak terlalu didominasi warna merah. Tahun 1992 misalnya, laju pertumbuhan ekonomi Papua sempat menembus angka 8,62 persen. Laju pertumbuhan itu dibentuk oleh sektor pertanian 11,22 persen, perdagangan dan jasa 9,68 persen, pertambangan dan penggalian 9,76 persen, bank 8,30 persen, dan bangunan 8,75 persen. Sementara sektor lainnya di bawah 6 persen. Laju pertumbuhan terendah terjadi pada sektor pemerintahan dan hankam 3,21 persen. Demikian pula dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua. Berdasarkan harga berlaku tahun 1992, PDRB Papua mencapai Rp 3.05 triliun. Sektor pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar Rp 1.71 triliun. Lalu diikuti sektor pertanian dan hankam, masing-masing sekitar Rp 492.14 dan Rp 282.82 miliar. Sektor yang paling kecil sumbangannya adalah sektor listrik dan air minum, sekitar Rp 13.17 miliar. Dilihat dari distribusi persentasenya, sumbangan sektor pertambangan mencapai 56,10 persen yang diikuti sektor pertanian (16,09%) dan sektor lainnya (di bawah 10%). Sedangkan, susunan struktur ekonomi Papua tiga tahun terakhir belum memperlihatkan pergeseran. Sub sektor pertambangan tampak terus meningkat, begitu juga dengan sektor perbankan. Pendapatan regional penduduk pun sebenarnya tidak terlalu jeblok. Tahun 1992, atas dasar harga konstan, mencapai Rp 701.557,39. Angka ini meningkat 5,44 persen dibanding tahun 1991, hanya Rp 665.384,34. Bahkan, tanpa memperhitungkan sektor pertambangan, pendapatan regional pada tahun 1992 mencapai Rp 445.093,69. Yang juga menunjukkan peningkatan sekitar 4,76 persen dibanding tahun sebelumnya.

Namun, betapapun “menarik” kedengarannya, data-data resmi ini lebih merupakan hitungan di atas kertas. Hitungan seperti ini lebih bersifat total. Jadi memang belum tentu mencerminkan kesejateraan per individu masyarakat. Kenyataannya, sebagian besar masyarakat Papua masih tetap “berkoteka”. Orang boleh saja berkilah: koteka bukan semata persoalan “harta”, tapi persoalan “budaya”. Tapi, bagaimanapun, orang akhirnya akan sepakat, kekayaan Papua—yang diperkirakan mampu menyumbang devisa sebesar US$ 3 miliar atau Rp 24 triliun tiap tahun (Belum Termasuk Penghasilan BP, Conoco, Corindo)—tidak sepenuhnya bisa dinikmati rakyat Papua. Buktinya? Pendapatan asli daerah yang masuk ke kas untuk tahun 1996-1997 hanya sebesar Rp 21 miliar. Sedangkan keseluruhan anggaran belanja (APBD) provinsi ke-26 Indonesia itu tidak pernah menembus angka Rp 1 triliun. Demikian pula dengan pajak industri. Jumlahnya boleh saja melimpah. Pajak Freeport, misalnya, mencapai US$ 700 juta sampai US$ 800 juta setiap tahun. Tapi apa boleh buat. Yang mengalir ke rakyat Papua tidak lebih dari 1 persen. Itu pun baru empat tahun terakhir diterima. Harta berlimpah ruah ternyata tidak mampu mengangkat kehidupan rakyat. Sebelum krisis melanda Indonesia saja, sekitar 427 ribu dari sekitar 2,3 juta (19%) penduduk berada di bawah garis kemiskinan.

Lawan! Dan Menang.
Perlawanan rakyat Papua sejak 1920-an, dimulai dengan gerakan-gerakan rakyat bersifat mesianistik disekitar kepulauan Schouten (Teluk Cendrawasih, dan skitarnya). Perlawanan ini digerakan oleh sentiment anti-Jepang yang ketika itu sedang mengkonsentrasikan pasukannya di wilayah Pasifik untuk menghantam kekuatan Sekutu (AS, ed) yang juga sedang berupaya membantu sekutu-sekutu politiknya di daerah Asia Tenggara. Jauh sebelum adanya sebuah kerangka gerakan lebih modern yang dimotori oleh kaum terpelajar di Papua, sesungguhnya telah ada gerakan-gerakan rakyat Papua yang bersifat sporadic, dilakukan diberbagai daerah di Papua.

Gerakan-gerakan sporadik di daerah kepulauan Schouten (Biak dan Serui), misalnya dilakukan karena adanya nilai-nilai budaya mesianistik didaerah-daerah ini, yaitu Gerakan Koreri dan Gerakan Kuripasai. Sebagaimana diyakini oleh rakyat didaerah ini, Koreri maupun Kuripasai adalah dua keyakinan yang memiliki akar filosofis yang sama. Spirit dari gerakan Koreri dan Kuripasai adalah spirit yang mendorong rakyat dari suku Biak dan Numfor serta suku-suku di Pulau Serui untuk melawan setiap bentuk penindasan yang dilakukan oleh kaum penjajah (gerakan Koreri dan Kuripasai melihat Belanda maupun Jepang pada waktu itu sebagai kaum terkutuk yang harus dilawan) sebab diyakini, dalam Gerakan Koreri, bahwa akan lahir messiah atau penyelamat yang akan mensejahterakan rakyat yang mengikuti anjuran-anjurannya lewat tokoh masyarakat setempat (bisa dikatakan semacam Nabi), yang dalam kepercayaan Gerakan Koreri disebut sebagai Konnor.

Dalam bebarapa literatur sejarah, Gerakan Koreri  sudah dimulai sejak awal tahun 1920-an, tetapi lebih besifat local dan pada saat itu gaungnya tidak begitu terdengar kuat keluar. Secara kualitatif, Gerakan Koreri mulai membesar sejak tahun 1940-an, dimana terjadi pergeseran penguasa atas wilayah Papua (dari Belanda ke Jepang), yang mana pada proses pengalihan, seperti kita tahu, watak fasisme Jepang menyebabkan proses represi luar bisaa terhadap rakyat didaerah-daerah pesisir pantai disepanjang garis pantai Papua, terutama di garis pantai Papua bagian utara, yaitu, Biak – Serui, Nabire, Manokwari, Sorong dan sebagian garis pantai selatan Papua, yaitu kota Fakfak.

Gerakan ini membesar pada tahun 1946 dimana dua orang Konor, yaitu Angganita Manufandu dan Steve Simopairef mengorganisir perlawanan terhadap tentara Jepang di Biak. Akibat proses pengorganisirannya, terjadi bentok yang cukup besar diwilayah ini. Angganita Manufandu ditangkap dan dimasukan kedalam penjara di kota Manokwari. Gerakan Koreri ini dilanjutkan oleh Stev Simopiaref yang juga menyeberang ke Manokwari dan mengorganisir masyarakat suku Biak (migran terbesar dikota Manokwari) di Kota Manokwari untuk melakukan penyerangan terhadap barak-barak tentara Jepang. Perlawanan ini gagal. Stev ditangkap dan dipenjara di kota Manokwari megikuti jejak Angganita dan berakhirlah sudah riwayat perjuangan Koreri. Gerakan Koreri adalah merupakan cikal-bakal dari sebuah gerakan nation-state yang lebih besar dalam perjuangan Papua, sebab secara langsung, semangat gerakan Koreri itu masih terasa hingga saat ini didalam pusaran gerakan rakyat Papua.

Tonggak sejarah yang pertama adalah pencetusan berdirinya OPM di Manokwari, tanggal 26 Juli 1965. Gerakan itu merembet hampir ke seluruh daerah Kepala Burung, dan berlangsung selama dua tahun. Tokoh pemimpin kharismatis gerakan ini adalah Johan Ariks, yang waktu itu sudah berumur 75 tahun. Sedangkan tokoh-tokoh pimpinan militernya adalah dua bersaudara Mandatjan, Lodewijk dan Barends, serta dua bersaudara Awom, Ferry dan Perminas. Inti kekuatan tempur gerakan itu adalah para bekas anggota PVK, atau yang dikenal dengan sebutan Batalyon Papua. Ariks dan Mandatjan bersaudara adalah tokoh-tokoh asli dari Pegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari, sedangkan kedua bersaudara Awom adalah migran suku Biak yang memang banyak terdapat di Manokwari. Sebelum terjun dalam pemberontakan bersenjata itu, Ariks adalah pemimpin partai politik bernama Persatuan Orang New Guinea (PONG) yang berbasis di Manokwari dan terutama beranggotakan orang-orang Arfak. Tujuan partai ini adalah mencapai kemerdekaan penuh bagi Papua Barat, tanpa sasaran tanggal tertentu (Nusa Bhakti, 1984; Osborne, 1989: 35-36).


Empat tahun sesudah pemberontakan OPM di daerah Kepala Burung dapat dipadamkan oleh pasukan-pasukan elit RPKAD di bawah komando almarhum Sarwo Edhie Wibowo, "proklamasi OPM" kedua tercetus. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 1 Juli 1971 di suatu tempat di Desa Waris, Kabupaten Jayapura, dekat perbatasan Papua Niugini, yang dijuluki (Markas) Victoria, yang kemudian dijuluki dalam kosakata rakyat Papua Jaya, "Mavik". Pencetusnya juga berasal dari angkatan bersenjata, tapi bukan seorang bekas tentara didikan Belanda, melainkan seorang bekas bintara didikan Indonesia, Seth Jafet Rumkorem. Seperti juga Ferry Awom yang memimpin pemberontakan OPM di daerah Kepala Burung, Rumkorem juga berasal dari suku Biak. Ironisnya, ia adalah putera dari Lukas Rumkorem, seorang pejuang Merah Putih di Biak, yang di bulan Oktober 1949 menandai berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) dengan menanam pohon kasuarina di Kampung Bosnik di Biak Timur (Aditjondro, 1987: 122). Sebagai putera dari seorang pejuang Merah Putih, Seth Jafet Rumkorem tadinya menyambut kedatangan pemerintah dan tentara Indonesia dengan tangan terbuka. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai penata buku di kantor KLM di Biak, dan masuk TNI/AD yang memungkinkan ia mengikuti latihan kemiliteran di Cimahi, Jawa Barat, sebelum ditempatkan di Papua Jaya dengan pangkat Letnan Satu bidang Intelligence di bawah pasukan Diponegoro. Namun kekesalannya menyaksikan berbagai pelanggaran hak-hak asasi manusia menjelang Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, mendorong ia masuk ke hutan bersama-sama para aktivis OPM dari daerah Jayapura sendiri. Sebelumnya ia sudah membina hubungan dengan kelompok OPM pimpinan Herman Womsiwor, orang sesukunya, di Negeri Belanda.  Seperti kita ketahui, Pulau Biak terletak di "pintu gerbang" Teluk Cenderawasih, sedangkan Pulau Adi terletak di lepas pantai Kabupaten Fakfak, tepatnya di Teluk Kaimana. Jadi boleh dikata, Biak mewakili pulau-pulau lepas pantai di belahan utara Papua Barat, sedangkan Adi mewakili pulau-pulau lepas pantai di belahan selatan Papua Barat.

Dengan referensi kartografis itu, terbayanglah suatu negara "Papua Barat" yang tidak hanya punya kedaulatan di darat, melainkan juga di laut. Kesadaran tentang kedaulatan di laut itu, tampaknya bukan karena "rangsangan" pemerintah Indonesia. Paling tidak, bukan karena rangsangan pemerintah Orde Baru. Sebab pada tahun 1971, perdebatan tentang wawasan kepulauan di lingkup internasional, yang mencuatkan nama Mochtar Kusumaatmadja, belum mencuat ke permukaan. Pemberian konsesi kepada suatu perusahaan kongsi Indonesia-Perancis, PT Multi Transpeche, untuk menangkap ikan cakalang sampai ke perairan batas landas kontinen Indonesia di utara Pulau Biak, juga belum dimulai. Agak lain ceriteranya tentang Pulau Adi. Pada tanggal 12 Februari 1965, berarti masih di era Orde Lama, tokoh-tokoh adat, agama, wanita, pemuda dan veteran dari Kecamatan Kaimana menyatakan mendukung sepenuhnya keputusan pemerintah Indonesia untuk menutup konsesi sebuah perusahaan perkayuan Amerika, Jones & Guerrero Company, di pulau itu. Dalam pernyataan itu, mereka juga menyalahkan "pemerintah penjajah Belanda" karena mengeluarkan konsesi kepada perusahaan asing itu, walaupun rakyat setempat tidak menyetujuinya. Boleh jadi, kasus penutupan konsesi perusahaan kayu AS di Pulau Adi ikut mengasah kesadaran Rumkorem untuk dalam negara yang (ingin) didirikannya, juga memperhatikan kedaulatan atas wilayah pulau-pulau di lepas pantai. Tapi di samping faktor itu, atau bahkan barangkali yang lebih utama, adalah latar-belakang Rumkorem sebagai orang Biak yang sejak ratusan tahun lalu punya kebudayaan maritim yang sangat kuat (lihat Korwa, 1989).

Imajinasi kartografis wilayah negara merdeka yang dicita-citakan oleh para aktivis OPM, tidak terbatas pada wilayah eks propinsi New Guinea Barat di masa penjajahan Belanda.Tiga tahun sesudah proklamasi di "Markas Victoria", imajinasi itu melebar sampai meliputi wilayah negara tetangga mereka, Papua Niugini. Pada tanggal 3 Desember 1974, enam orang pegawai negeri di kota Serui, ibukota Kabupaten Yapen-Waropen, menandatangani apa yang mereka sebut "Pernyataan Rakyat Yapen-Waropen", yang isinya menghendaki persatuan bangsa Papua dari Samarai (di ujung buntut daratan Papua Niugini) sampai ke Sorong, yang "100% merdeka di luar Republik Indonesia". Sejak Februari 1975, lima di antara penandatangan petisi ditahan di Jayapura. Soalnya, salah seorang di antara penandatangan "proklamasi Sorong-Samarai" itu, Y. Ch. Merino, orang Biak yang sebelumnya adalah Kepala Kantor Bendahara Negara di Serui, pada tanggal 14 Februari 1975 kedapatan "bunuh diri" di Serui. Kabarnya dalam penggeledahan di rumahnya ditemukan uang kas negara sebanyak Rp 13 juta. Sesudah dua tahun ditahan di Jayapura, lima orang temannya yang masih hidup, di antaranya abang dari seorang alumnus FE-UKSW, diajukan ke pengadilan negeri Jayapura. Pada tanggal 9 Maret 1977, kelimanya divonis delapan tahun penjara, karena tuduhan melakukan "makar". Ketika kami bekerja di Jayapura di awal 1980-an, kami

Oleh : Alfrid Tiwaiwode Dumupa)***

 



Copyright © 2014. MEE YAGAMO YEIMO - FREE WEST PAPUA